Perjalanan Hidup Dan Syair Chairil Anwar
f.o.
f.i.
2. Bom atom pertama meledak di kota Hiroshima.
Langit berselaput awan cendawan berbisa.
Di timpa salju yang ganas.
Gedung- gedung beton runtuh.
Aspal-aspal terbakar meyala.
Bumi retak – retak menyala, di segala penjuru.
Dan beribu tubuh manusia meleleh, tewas atau terluka
3. Seekor kuda binal, bebulu putih dan rambut kuduk tergerai
Berlari ke pusat kota,
Jakarta!
Tidak peduli pada yang ada, di sekelilingnya,
Juga tidak pada manusia.
Dia meringkik alangka dasyatnya,
Menapak dan menyepak alangkah merdekanya.
Dunia Ini,
Seolah cuma menjadi miliknya!
Dan sekaligus seolah dia bicara:
Kalau sampai waktuku
Tak seorangpun kan merayu
Tidak juga kau tidak perlu serdu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
4. Aku
Gaung suara ini
seolah membelah langit,
membelah bumi.
Membelah juga rel kereta api
Di pinggir kota
5. Akhirnya juga membelah peron stasiun
Yang berpagar kawat duri.
Tapi sang kuda binal melompat tidak peduli
Sepotong ujung kawat duri mengores perut
Mengores juga paha
Darah segar menyembur keluar.
Membuat noktah noktah merah
Di bulunya yang putih.
Tapi dia Cuma menengadah ke udara,
Dan meringkik lagi:
Biar peluru menembus kulitku
Aku akan meradang menerjang luka yang kubawa berlari,
Hingga hilang pedih peri
6. sampai juga sang kuda melayang
Di atas gerbong kereta dan gubuk - gubuk liar,
Gerbong dan gubuk - gubuk busuk,
Milik perempuan - perempuan pendaki.
Menetes darah segar,
Ketika kuda melayang di atas sana
Dan menimpa wajah dari:
Lelaki kurus berambut panjang,
Bermata cekung tapi tajam,
Berdada telanjang dan kurus bertulang – tulang.
Tapi dialah lelaki resah,
Berwajah gelisah dan mata merah lelaki yang baru saja keluar dari pintu reot
Sebuah gubuk yang basah.
Lelaki ini terkejut seketika,
Memandang langit sambil mengusap mukanya.
Dia cuma menemukan langit kosong
Di ujung – ujung atap gubuk yang menyesak langit kerut kerut tampa cahaya.
Sedang di kejahuan,
Masih tinggal tersisa sepotong ringkikan sang kuda:
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup
Seribu tahun lagi
******
AKU
Bedasarkan perjalan hidup dan Karya penyair Chairil Anwar
penulis dan skenario:
Sjuman Djaya
Jakarta, Desember 3, 1983

Leave a Reply