Prolog Dialog Antara Gambaran dan Kesan?
“Jangan-jangan Pak Hatta sangat sibuk, Oom?” tanya saya pada Prof. Bahder Djohan. “Ah, tidak,” katanya. “Oom akan mintakan waktu untuk jij (kamu). Ia pasti akan terima dengan baik.” Saya tak sangsi akan hal ini, bukankah Prof. Bahder Djohan teman akrabnya sejak mereka masih sama-sama bersekolah di Padang? Lagi pula, Bung Hatta akan bersedia meluangkan waktu bagi seorang mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian.
Hanya saja timbul keragu-raguan dalam diri saya. Betapa tidak? Hatta telah merupakan bagian dari sejarah bangsa, setidaknya begitulah dugaan saya. Sebab itu, kepadanya melekat berbagai penilaian dan gambaran, sehingga kabur antara Hatta sesungguhnya dan Hatta sebagaimana dalam gambaran yang telah terbentuk.
Saya ragu, mungkin saat itu saya enggan menguji kebenaran atau mengingkari gambaran yang telah saya bentuk tentang Hatta, walau saya pribadi tak mengenalnya. Barangkali saya merasa enggan memasuki gambaran-gambaran secara langsung. Atau, lebih mungkin, Hatta terlalu jauh dalam bayangan saya. Ia adalah aktor sejarah.
Taufik Abdullah, Pribadi Manusia Hatta, Seri 9, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply