Prolog Sejatinya Bung Hatta
Nama beliau telah saya kenal sejak tahun 1928, yaitu tatkala sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia di Nederland. Beliau ditangkap oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dan bersama dengan pengikut-pengikutnya seperti Mr. Ali Sastroamidjojo, Nazir St Pamontjak, dan Abdulmadjid Djojodiningrat, dijebloskan dalam tahanan.
Sebagai murid kelas satu dari sebuah sekolah menengah atas, saya waktu itu sudah ikut memimpin sebuah cabang Jong-Java, merasa kagum atas keberanian mahasiswa Mohammad Hatta itu. Lebih-lebih kemudian, tatkala saya dapat kesempatan membaca pleidooinya yang penuh bersemangat nasional itu. Sebagai penutup dari pidato pembelaannya di depan Arrondissements Rechthank (pengadilan) di Den Haag, tanggal 9 Maret 1928 itu, Bung Hatta telah mensitir sebuah syair dari Rene de Clerq, yang berbunyi:
Daar is maar een land, dat num land kan zun. Het groeit naar de daad, en die daad is mijn (Hanya ada satu negeri, yang dapat menjadi negeriku. Itu tumbuh sesuai dengan tindakan, dan tindakan itu adalah punyaku).
Para pembaca dari zaman sekarang hendaknya jangan heran kalau saya mengungkapkan perasaan kami para pemuda pelajar waktu itu, yang menganggap, bahwa masuk penjara karena membela bangsa adalah suatu tindakan yang harus dihormati setinggi-tingginya.
Para mahasiswa, Mohammad Hatta dan kawan-kawan, telah masuk penjara tidak di tanah airnya sendiri, melainkan di Nederland, sarang singa yang sedang menerkam bangsa kita. Tak heran bila waktu itu ucapan de terstudenten (empat orang mahasiswa) telah menjadi demikian populer di Indonesia. Waktu itu resminya masih disebut Hindia Belanda, sehingga pada tiap rapat dari pergerakan pemuda, tidak pernah kita lupa mengenang mereka itu, sambil mencela keganasan Pemerintah Belanda.
Baru pada tahun 1931 saya berkenalan dengan beliau, setelah kembali ke tanah air. Tempatnya di Jalan Borneo No. 9 di Kota Madiun. Orang yang memperkenalkan saya kepada beliau ialah Pak Suradji, waktu itu ketua Budi Utomo cabang Madiun.
Saya masih ingat, Bung Hatta waktu itu mengenakan jas dan celana putih. Tampak sederhana, tetapi berwibawa.
Pak Diro, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply