Radio Rimbu
Dalam perjalanan peninjauan ke Daerah Riau dengan menumpang kapal yang dalam masa penjajahan Belanda terkenal sebagai Zuiderkruis, juga termasuk kunjungan ke kepulauan yang terletak di antara Semenanjung Malaka dan Kalimantan, khususnya ke Pulau Tarempa, Bung Hatta tampak sangat gembira mendekati pulau itu, karena beliau membawa suatu benda berharga bagi pulau itu, bagi penduduk-penduduknya yang hidup terpencil jauh sebelah utara Tanjung Pinang.
Hadiah itu berupa sebuah radio rimbu. Dengan radio itu Bung Hatta bermaksud menciptakan suatu garis komunikasi antara Pusat Republik Indonesia dengan daerah yang terletak jauh di perbatasan. Lambang adanya garis persatuan dan kesatuan Indonesia seperti dicita-citakan oleh bangsa dan rakyat Indonesia.
Ternyata masyarakat di kepulauan ini, karena berdekatan dengan Singapura sudah mengenal listrik dan telah mempergunakan radio, lemari es, dan sebagainya. Bung Hatta tampak sebentar tertegun tetapi kemudian dengan tegas beliau berkata, “Baik, radio rimbu ini dianggap sebagai lambang adanya hubungan antara pusat dan daerah dan sebaiknya ditempatkan di balai pertemuan umum dan pada kesempatan-kesempatan tertentu dibunyikan untuk menangkap suara dari pusat.”
Kami sebagai anggota rombongan sangat terharu. Peristiwa itu justru memperkuat keyakinan kami bahwa cita-cita kesatuan dan persatuan itu selalu hidup dalam jiwa Bung Hatta. Bahwa Bung Hatta berhasrat kuat untuk merealisasikannya dengan segala cara dan jalan.
Kami yakin bahwa masyarakat Tarempa menghormati hadiah ini, yang mempunyai nilai moral yang sangat tinggi dan bahwa pada kesempatan-kesempatan tertentu radio rimbu itu betul-betul dihubungkan dengan Pusat Pemerintahan Republik Indonesia.
Pada perjalanan kembali dari kepulauan itu tertangkap radiogram dari Jakarta yang meminta agar Kepala Jawatan Pengajaran segera kembali ke Jakarta berhubung telah terjadi kebocoran dalam sebagian bahan-bahan ujian negara sekolah-sekolah lanjutan. Segera berita ini dilaporkan kepada Bung Hatta, dan beliau dengan tenang saja menjawab, “Mas Gardo kan ikut saya.” Dan sesudah itu tidak seorang pun menyinggung peristiwa itu lagi.
Baru sesudah sampai di Padang dan kami sudah berada pada akhir perjalanan, saya mohon izin kepada Bung Hatta untuk mendahului beliau menuju ke Jakarta, agar masih dapat ikut menyelesaikan kebocoran ujian negara pada tahun 1953 itu.
Soegarda Poerbakawatja, Pribadi Manusia Hatta, Seri 8, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply