Rangsanglah Anak Supaya Cinta Belajar dengan Peta Pikiran
Peta pikiran (mind mapping) bisa membantu anak cinta belajar. Karena kini catatannya lebih menarik dan sistematis sehingga lebih mudah dihafal dan dimengerti.
Peta pikiran pertama kali dikembangkan oleh Tony Buzan. Beliau adalah Ketua Yayasan Otak, pendiri Klub Pakar (Brain Trust) dan Klub Gunakan Kepala Anda (Use Your Head) dan pencipta konsep Melek Mental.
Menurut Tony Buzan kelemahan dari catatan standar (yang linier dari atas ke bawah baik satu kolom atau dua kolom) atau yang umum dilakukan sejak sekolah dasar adalah:
- Dibutuhkan waktu lebih lama untuk “melihat” hubungan antara satu ide ke ide lain. Bahkan acap kali materi yang sebenarnya hanya pengulangan dari yang sebelumnya luput dari perhatian. Dan kita merasa itu “seolah-olah” materi yang baru karena ada dalam bagian atau bab yang berbeda. Hal ini juga dialami oleh anak, apalagi bila ia kurang tekun atau perhatian. Bisa saja ia mengerjakan materi yang sama tanpa ingat pernah mengerjakan sebelumnya.
- Selain itu, waktu habis hanya untuk mencari kata pengingat kunci atau kata penting. Apalagi tulisannya yang rapat tidak bisa membuat kata-kata penting tersebut menonjol, kecuali bila diberi garis bawah.
- Kerugian lain dari sistem mencatat pada umumnya adalah bertentangan dengan cara kerja otak. Setiap kali sebuah gagasan dipikirkan, gagasan tersebut ditaruh pada satu halaman dan kemudian terlupakan karena berlanjut ke halaman berikutnya. Kata pengingat kunci jadi terpisah satu sama lain sehingga tidak terlihat hubungannya. Dengan begitu catatan linier akan lebih “bersahabat” bagi orang yang cenderung otak kiri dibanding otak kanan.
- Waktu juga habis hanya untuk mencatat kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan memori atau membaca kembali kata yang sama dan tidak diperlukan (perkiraan pemborosan-90%). Apalagi biasanya hanya digunakan satu atau dua warna saja (biasanya menggunakan pensil, pulpen hitam atau biru) sehingga tidak menarik saat dibaca ulang.
Akhirnya banyak anak cenderung meminjam catatan teman atau memfotokopi catatan. Hal ini akan membuat anak jadi kurang kreatif dan kurang melatih otak sendiri. Tidak ada rasa bangga akan catatannya sendiri. Bahkan beberapa sekolah juga membagikan ringkasan pelajaran. Lama kelamaan anak menjadi “manja” dan minta “disuapin” terus, malas menstimulasi kedua belahan otaknya.
Tony Buzan menawarkan cara pembelajaran menggunakan gambar, simbol, dan warna yang dipercaya sangat disukai anak-anak di seluruh dunia. Setiap gambar, simbol, warna, huruf, dan kata-kata saling berkaitan sebagai penjelasan mengenai sesuatu hal.
Cara ini diyakini akan menjadi alat bantu yang bisa memanfaatkan kedua belahan otak ketika berpikir. Hal itu juga diyakini mampu membuka pikiran sebebas-bebasnya. Apalagi saat ini membentuk cara berpikir bukan cuma menjadi tanggung jawab sekolah saja. Orang tua juga memiliki peranan penting dalam melatih sistem berpikir anak. Artinya pemetaan pikiran tidak hanya diterapkan dalam kegiatan pendidikan, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari.
Dengan menguasai peta pikiran, anak Anda akan mendapatkan bekal yang sangat berguna bagi masa depannya. Karena anak Anda tidak menyadari kalau ia sebenarnya sedang “belajar” karena metode belajar dengan peta pikiran merupakan gabungan dari creative thinking dan active learning. Anak akan belajar sambil mencatat dan menggambar sekaligus merangsang kecerdasan majemuk anak. Terutama kecerdasan visual spasial, verbal (linguistik), logis matematis, kinestetik, dan interpersonal anak.
Sistem peta pikiran kini mampu menggusur sistem lama yang hanya memanfaatkan otak kiri. Dengan membuat gambar, simbol, dan warna kita menggunakan otak kanan. Dengan kata lain, anak akan bermain permainan otak yang menyenangkan serta lebih percaya diri saat membuat pemetaan pikiran. Dengan begitu kecerdasan visual anak akan diasah dan kemampuan berpikir kritisnya juga akan terangsang secara alami.
Sumber: Gembira Belajar dengan Mind Mapping, Femi Olivia
Leave a Reply