Rekan Kerjaku Menyebalkan…
Lingkungan kerja seringkali bisa diibaratkan sebagai sebuah tempat pertemuan orang-orang dengan berbagai karakter dan latar belakang yang berbeda. Setiap karyawan diharuskan untuk bertanggung jawab atas pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka dan bisa bekerja sama dengan rekan kerja lain. Terlebih lagi bila berada dalam satu tim. Kerja sama adalah hal yang paling dibutuhkan.
Dalam menjalin kerja sama dengan anggota tim lainnya, terkadang ada satu orang yang sering jadi sumber masalah bagi Anda atau anggota tim lainnya. Karyawan yang satu ini sering berkata dan bersikap kasar, pemarah, dan senang berteriak. Hal ini tentu saja menyulitkan karyawan lain yang sering bersinggungan dengannya terutama soal pekerjaan. Bagaimana tidak, belum apa-apa mulutnya sudah berkomentar pedas dan menyinggung perasaan. Bila Anda memiliki rekan kerja seperti ini, apa yang harus Anda lakukan?
1. Ingatlah bahwa seringkali hal yang mendasari perilaku karyawan yang hostile justru bukan disebabkan oleh Anda. Beban yang ditimbulkan oleh masalah luar kantor seperti masalah pribadi atau keluarga secara tak sadar terbawa ke dalam suasana kerja. Jadi, jika Anda merasa sudah melakukan hal terbaik untuk menghadapi orang tersebut dan selalu mengerjakan bagian pekerjaan Anda dengan baik sementara hostility masih saja terpancar dari tindak tanduknya, maka ingatlah bahwa kemungkinan besar orang tersebut memiliki masalah lain, bukan dengan Anda. Do not take it personally.
2. Sebelum menghadapi karyawan ini, siapkan diri Anda dengan argumen yang jelas. Buat skenario di kepala Anda untuk menghadapi segala alasan yang mungkin akan disampaikan. Ingatlah untuk tidak menunjukkan arogansi atau bahkan rasa takut, namun sampaikan setiap argumentasi Anda dengan percaya diri.
3. Terbuka dengan diskusi. Walaupun rekan kerja tersebut menunjukkan sikap defensif atau tidak menyenangkan, namun jangan sia-siakan kesempatan jika ia ingin berdiskusi dengan Anda. Atau ajak dia untuk berdiskusi tentang penyelesaian yang memberikan solusi bagi kedua belah pihak. Namun jangan lupa untuk tetap berpegang pada prinsip yang Anda pegang.
4. Jangan menuang bensin ke kobaran api. Jangan menyulut emosi karyawan tersebut dengan membalas tindakan atau perkataan kasarnya dengan hal yang sama. Selain justru membuat munculnya konflik, hal tersebut malah akan membuat karyawan ini merasa lebih powerful dari Anda karena bisa membuat Anda marah.
5. Balas dengan ‘kebaikan’. Jawab perkataan kasarnya dengan ramah, senyum walaupun karyawan ini ‘melengos’. Tidak ada perlawanan dari Anda atau tanggapan yang datar dan super ramah saja justru membuat karyawan tersebut merasa bosan hingga pada akhirnya menyerah untuk kemudian melakukan hal yang Anda inginkan. Mungkin terasa berat pada awalnya karena Anda tentunya didorong keinginan untuk ‘menjudesi’ orang tersebut, namun percayalah perlakuan baik dan manis dari Anda akan menghentikan bullying dia.
6. Tawarkan dan beri bantuan. Bisa saja hardikan dan sikapnya yang tidak bersahabat selama ini dikarenakan pekerjaannya yang over load dan tidak bisa dibagi dengan orang lain. Jika Anda merasa kompeten dan punya waktu untuk membantunya, tawarkan uluran tangan Anda. Ini adalah cara mujarab untuk membuatnya merasa dekat dengan Anda.
7. Minta bantuan pihak ketiga. Sebaik apa pun Anda, dan sekeras apa pun usaha yang telah Anda lakukan, terkadang masih belum cukup untuk menghentikan bullying dari karyawan menyebalkan tersebut. Mintalah bantuan pihak ketiga untuk mengatasi hal ini atau mendiskusikan hal lain yang sebaiknya Anda lakukan. Orang yang paling cocok sebenarnya adalah manager Anda. Dia memiliki tanggung jawab untuk meminimalisir bahkan menghilangkan segala bentuk interupsi yang mengganggu kinerja Anda.
Berikut ini beberapa tipe rekan kerja yang menyebalkan dan cara mengatasinya:
Tukang ngoceh
Sekilas, tipe rekan kerja seperti ini adalah teman yang menyenangkan. Dia ramah, mudah bergaul, dan senang bercerita. Sayangnya, kegemarannya bercerita tentang dirinya atau apa pun yang ada di pikirannya selalu mengganggu konsentrasi rekan kerja lain yang sedang bekerja.
Cara mengatasinya, sebaiknya bicara kepadanya bahwa Anda mengalami kesulitan berkonsentrasi jika harus bekerja sambil mendengarkan ceritanya. Katakan kepadanya, Anda akan mendengarkan ceritanya lebih lanjut jika pekerjaan Anda sudah selesai. Jika Anda memang senang berteman dan mendengarkan ceritanya, coba juga meluangkan waktu dengannya saat makan siang atau di luar jam kerja pada akhir pekan.
Tukang gosip selalu tahu berita apa pun di lingkungan kerja dan dia pasti akan menyebarkannya kepada semua orang. Pertanyaannya, apakah Anda harus mendengarkannya atau tidak?
Cara mengatasinya, dengarkan saja kabar darinya karena dari ceritanya Anda bisa mendapatkan berita-berita terbaru tentang lingkungan kerja. Yang penting ialah, Anda harus pandai-pandai menganalisis gosip yang diceritakannya, apakah itu benar atau tidak, dan jangan tergoda untuk ikut bergosip dengannya. Jika dia memancing respons Anda dengan bertanya, misalnya mengenai gosip tentang seorang rekan kerja, katakan saja bahwa Anda tidak memahami permasalahan yang ada. Jadi Anda enggan berkomentar lebih jauh. Atau katakan kalimat-kalimat diplomatis lainnya.
Tukang mengeluh
Rasanya tak ada yang bisa membuat si tukang mengeluh bahagia. Anda akan selalu menemukan dia tengah mengeluh tentang kesehatannya, keluarganya, pekerjaannya, perusahaan, atau tentang atasannya. Mungkin saja ada keluhannya yang benar, namun jika terus-menerus mendengar keluhannya, tentu akan membuat Anda ikut-ikutan stres.
Jika rekan kerja Anda mulai mengeluh, langsung saja ganti topik pembicaraan. Jika Anda melakukan ini terus-menerus, tentu dia akan paham dan menangkap maksud tersembunyi dari sikap Anda itu.
Tukang mengoper pekerjaan
Ini adalah tipe rekan kerja yang senang mengalihkan pekerjaannya kepada orang lain, padahal ia tidak punya kewenangan untuk melakukan hal tersebut terhadap Anda atau rekan kerja yang lain. Biasanya, mereka melakukan ini karena tak sanggup atau malah tidak mau mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Jika Anda memang punya waktu dan ingin melakukannya, maka bantulah ia dengan sewajarnya. Namun, jika Anda tak punya waktu dan sudah sibuk dengan pekerjaan Anda sendiri, maka tak ada salahnya jika Anda menolak permintaannya.
Rekan kerja seperti inilah yang paling menyebalkan. Ia tidak pernah mengakui bahwa proyek yang berhasil dikerjakan dan dipuji atasan adalah hasil kerja tim, bukan hanya hasil kerja satu orang saja. Jika dia baru melakukannya sekali, anggap saja hal tersebut sebagai sebuah kekhilafan.
Namun, katakan kepadanya bahwa lain kali ia juga harus menyebut orang-orang yang membantunya dalam proyek tersebut. Jika dia tetap mengklaim prestasi kerja sebagai hasil kerjanya sendiri, katakan saja kepada orang-orang bahwa proyek tersebut adalah hasil kerja bersama. Setelah itu, jika diajak kerja sama lagi olehnya, sudah sepatutnya Anda menolak ajakan itu, kecuali jika yang meminta adalah atasan Anda.
Jika semua hal tersebut Anda lakukan dengan maksimal, namun hasilnya masih jauh dari harapan, bahkan mengganggu kinerja dan produktivitas kerja Anda, maka yang bisa dilakukan selanjutnya adalah mulai merencanakan untuk pindah kerja. Bekerja dengan orang yang tidak bisa bekerja sama hanya akan membuat lingkungan kerja terasa tidak nyaman. Kalau sudah begitu, produktivitas dan prestasi kerjalah yang jadi taruhannya.
Jika mencari pekerjaan adalah jalan terbaik, mulailah memperluas jaringan kerja dan mulai mencari lowongan kerja baru. Langkah ini adalah langkah pertama yang realistis karena dengan memperluas jaringan, secara otomatis pintu untuk mendapatkan informasi tentang pekerjaan baru bisa terbuka lebar. Tapi yang pasti, Anda juga harus menyiapkan keahlian dan keterampilan yang jauh lebih baik sebagai modal untuk melamar kerja di tempat yang baru.
Sumber: jobsdb.com dan rawabokor.web.id


Leave a Reply