Restu
Sebenarnya kehebohan diawali jauh sebelum hari H, dalam suatu pertemuan keluarga mama membuka perbincangan yang membuat kami semua terkejut yaitu menyebut nama Andrie. Mama menyatakan walaupun sikap mama menolak Andrie, bukan berarti mama membenci, tetapi mama menolak Andrie karena menginginkan calon menantu yang bisa dibanggakan. Tetapi dengan perkembangan yang ada sekarang, mama melihat keseriusan kami berdua menyikapi hubungan dengan teguh dan giat bekerja, dan tiba saatnya mama merestui hubungan kami dengan syarat Andrie tidak lagi sebagai bintang film dan saya harus menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Kuliah pun dikebut habis dan tahun 1986, saya diwisuda sebagai sarjana hukum. Dan saat itu, usaha bersama kami pun menunjukkan kemajuan yang menggembirakan dan tibalah saatnya kami mewujudkan rencana berikutnya, membeli sebuah mobil untuk mobilitas pekerjaan. Suatu hari Andrie pergi ke dealer mobil, tentunya mencari mobil dengan harga yang terjangkau isi kantong dan yang pasti bisa dibayar dengan mencicil. Dari hasil tanya jawab dengan seorang karyawan, sungguh mengecilkan hati karena persyaratan mencicil harus dengan jaminan, punya rekening di bank dan persyaratan lain. Maka dengan hati kecewa, hanya bisa lihat-lihat saja, mungkin memang belum saatnya beli mobil.
Tiba-tiba saat Andrie sedang sibuk melihat-lihat mobil, datang seorang lainnya, dan dengan orang inilah Andrie terlihat obrolan panjang lebar, Willy Dozan nama orang tersebut. Akhirnya Andrie diajak ke sebuah ruang kantor, di sela-sela itu pula dipersilakan memilih mobil yang dimaui, dengan catatan: tidak perlu jaminan, “Anggap saja saya yang menjaminlah”. Sewaktu akan pulang telah diputuskan mobil yang akan dipilih yaitu Hi Jet 1000 berwarna merah terang. Wah, pasti inilah yang disebut nasib baik, ada sebuah kebetulan yang menguntungkan.
Dan bila urusan mobil sudah beres, kami melangkah ke tujuan berikutnya yaitu mencari rumah cicilan untuk persiapan pernikahan karena selama ini kami masih kontrak rumah. Demi kehidupan yang lebih baik dan persiapan berumah tangga, maka setelah melalui berbagai pertimbangan, kami memutuskan mencicil sebuah rumah mungil di perumahan Green Garden.
Bila hari H telah ditentukan sebagai tanggal pernikahan, maka kesibukan persiapan pun berlangsung dengan heboh karena pernikahan akan dilangsungkan di Jakarta. Tanggal 02 Agustus 1987 adalah hari bersejarah bagi kami berdua dan untuk pertama kalinya keluarga kami bisa berkumpul lengkap dan mama tampak bahagia sekali mengiringi setiap langkah kami menuju pelaminan, memberi hadiah yang sangat-sangat-sangat berharga buat kami berdua yaitu restu seorang ibu. Terima kasih mama …
Belum lama menikmati masa bulan madu, terjadi peristiwa yang sangat memeras fisik dan mental saya. Produk kami, kartu ucapan Harvest dipalsukan dan diedarkan ke berbagai toko dengan cara digandakan persis dengan kartu yang asli, tetapi hasilnya tentu saja tidak seindah warna aslinya. Mulailah penyelidikan dan pengecekan di beberapa lokasi toko, untuk mengetahui siapa pemalsunya. Dari informasi yang diberikan oleh pihak toko sungguh mengagetkan kami, ternyata orang yang memalsukan sekaligus menjual adalah sales kita sendiri. Dia adalah teman lama, sependeritaan saat mereka sama-sama miskin. Sungguh sulit dipercaya dan sangat mengecewakan bahwa yang menjadi pengkhianat adalah sahabat dan teman dari kecil.
Mengingat cerita masa lalu dan hubungan baik selama ini, Andrie dan keluarga berusaha mengadakan pendekatan secara kekeluargaan. Namun semua iktikad baik itu tidak digubris malahan mereka dengan lantang dan gagah menantang untuk meneruskan kasus ini.
Saya tahu dan sadar, usaha kami sedang digoyang akan digulingkan dan bila tidak segera dibereskan, pasti akan memengaruhi kelangsungan kehidupan kami dan keluarga besar Andrie. Maka saya sebagai sarjana hukum sekaligus yang berhak berperkara di hadapan hukum. Akhirnya atas mandat Andrie sekeluarga, saya berangkat ke Surabaya dan dilanjutkan ke beberapa kota, tempat toko menjual barang palsu dan melaporkan kasus ini ke Polres dan Polda setempat dan siap untuk berperkara!
Pernah pula terjadi kebocoran di gudang percetakan melalui sopir dan menjual barang-barang kami di kaki lima. Walaupun tidak cukup mengganggu pemasaran kami karena penggemar Harvest bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan.
Mungkin karena kelelahan fisik dan mental, saya dinyatakan keguguran dan harus dikuret. Dari peristiwa ini, memberi sebuah pelajaran berharga kepada saya bahwa di dalam urusan bisnis, kepercayaan yang ditanamkan harus disertai dengan kontrol! Kelengahan sesaat bisa berakibat fatal yang berbuntut panjang dan membuahkan harga yang terlalu mahal untuk dibayar! Walau kehidupan bukan berarti dihantui sikap curiga, tetapi sikap waspada haruslah selalu ada!
Hidup memang ada saatnya pasang dan surut, ada saatnya di atas, suatu saat bisa berubah di bawah. Perubahan drastis ketika handphone melanda negeri tercinta kita, bisnis kartu ucapan menjadi lesu seperti sekarang. Zaman telah berubah! Tidak ada yang harus dipersalahkan! Zaman bukan alasan untuk berhenti berusaha, karena kitalah sebagai manusia yang harus mengubah keadaan, mengubah pola pikir dan menemukan solusinya, bukan kondisi luar yang boleh memengaruhi keadaan kita, kebahagiaan kita.
Segera diambil keputusan banting setir, yang dulunya produk utama kami adalah paper product, sekarang kami pun mulai mencoba dan menjual produk stationary. Sampai saat ini, Harvest masih tetap eksis walaupun dengan skala yang lebih kecil.
Dalam kegundahan menyikapi kemerosotan usaha kami, Andrie tidak pernah malu karena meski sebagai motivator yang membantu perusahaan, dia tidak mampu membuat produk yang dihasilkannya bertahan dan berkembang. Hidup adalah perubahan! Tidak perlu malu dengan perubahan. Teknologi tidak mungkin kita stop. Manusia yang terpenting harus memiliki daya tampung dan mempunyai sumber, sumber yang bagus dan berkualitas. Saat ini, kapasitasku melebihi daya tampung di perusahaan, maka secara alami akan mencari dan menemukan tempat yang cocok sesuai dengan bidangku. Sekarang melewati membagi pengalaman, filosofi dan semangat, memberi, memberi, dan terus memberi kepada orang yang membutuhkan. Kalau yang kita kerjakan berlandaskan kejujuran dan kebenaran, pasti akan diterima oleh semua orang. Maka tidak perlu malu! Misi kita masih jauh ke depan. Melalui seminar-seminar dan segala macam benda yang berkaitan dengan pembangunan dan kebangkitan mental kita gemakan. Agar bangsa ini tidak semakin terpuruk, agar setiap insan Indonesia memiliki kehidupan yang lebih bernilai. Semoga!
Sumber : Andrie Wongso ; Sang Pembelajar

Leave a Reply