Salah Pengertian
Bila kita disalah mengerti, kita seperti tidak mempunyai pertahanan. Pernahkah kita memerhatikan bahwa pada saat kita disalah mengerti dan kita berusaha keras menerangkan duduk persoalan maka keadaan menjadi semakin runyam?
Kita siap dengan berbagai alasan untuk meluruskan keadaan, namun akibatnya justru kita terperosok ke dalam! Makin keras kita berusaha, makin buruk situasinya dan makin dalam kepedihannya. Sengatnya dapat melumpuhkan.
Ada seorang pengacara muda yang masih single, hidup sendirian, tinggal di Texas. Ia bekerja pada sebuah biro pengacara yang cukup besar dan di bawah pimpinan seseorang yang menyukai tradisi Thanksgiving (hari besar di Amerika yang diadakan setiap bulan November untuk pengucapan syukur).
Pada saat upacara Thanksgiving, di atas meja kayu yang besar di ruang pimpinannya berderet ayam kalkun, seekor untuk setiap karyawan. Masing-masing berdiri menghadap kalkunnya dan mengucapkan pernyataan bersyukurnya.
Sebelum acara dimulai, beberapa orang temannya menukar baginya ayam-ayaman yang terbuat dari bubur kertas, dan supaya tampak asli diisi timah agar beratnya serupa, lalu menempelkan kepala dan ekor asli sehingga tampak asli ayam. Akhirnya tiba giliran setiap karyawan mendapatkan ayam kalkunnya.
Sore harinya pemuda tersebut naik bis menuju rumahnya sambil memangku ayam kalkunnya sambil memikirkan hendak diapakan ayam itu. Di sebuah halte bis naiklah seorang bapak berwajah kusut dan kemudian duduk di sampingnya. Dari percakapan tersebut si pemuda pengacara itu tahu bahwa orang itu telah menghabiskan waktu sepanjang hari mencari pekerjaan tanpa hasil. Ia memiliki keluarga besar dan tidak tahu apa yang akan dilakukan pada hari Thanksgiving besok.
Timbullah pikiran dalam benak pengacara muda itu, “Hari ini adalah kesempatanku untuk berbuat baik, aku akan berikan ayam kalkunku!”
Namun kemudian timbul pikiran lain: ” Tetapi bapak ini bukan gelandangan, boleh jadi nanti tersinggung kalau diberi begitu saja. Sebaiknya aku jual saja dengan harga yang paling murah kepadanya.”
Ia bertanya kepada bapak tua itu: “Saya hidup sendirian dan sama sekali tidak membutuhkan ayam besar ini, tidak tahu cara memasaknya dan seandainya dimasak, juga tak akan mungkin menghabiskan seorang diri. Apakah Bapak mau membeli ayam ini?”
“Saya cuma punya beberapa dollar dan receh saja,” jawabnya.
“Nggak apa Pak, seadanya uang Bapak yang bisa Bapak belikan untuk ayam ini saja.”
Dengan terharu orang tersebut mengulurkan sebagian uangnya. Air matanya mengalir membayangkan keluarga besarnya bisa makan bersama di hari Thanksgiving dengan menu special. Ia lalu turun dari bis dan sambil melambaikan tangannya ia berkat : “Kiranya Tuhan memberkati Anda. Selamat merayakan Thanksgiving, saya tak akan melupakan Anda.”
Dapatkan kita bayangkan Bapak tua tersebut pulang dan berseru di depan pintu rumahnya: “Hai anak-anak, hari ini aku telah berjumpa dengan orang baik yang luar biasa! Mari lihat apa yang kubawa!”
Ia lalu akan meletakkan bungkusan itu di meja makan dan mulai membuka bungkusan kertasnya, hanya untuk menemukan seonggok kertas dengan pemberat di dalamnya dan cuma ada kepala dan ekor ayam kalkun asli.
Hari Senin berikutnya, teman-temannya berusaha mencari tahu nasib ‘ayam kalkun’ ciptaan mereka itu. Kita mungkin tak mampu membayangkan betapa menyesalnya mereka pada waktu mendengar apa yang terjadi. Sepanjang minggu itu mereka naik turun bis setiap hari dalam usaha mencari Bapak tua itu. Boleh jadi sampai hari ini Bapak tua malang itu terus mengingat kejadian tentang pemuda pengacara yang dianggapnya baik luar biasa namun menipunya tanpa dia tahu bahwa pemuda itu memiliki niat baik dan tanpa sengaja melakukan hal itu.
Moral cerita :
* Terkadang kita sudah dengan niat baik melakukan yang terbaik untuk orang lain, namun mungkin karena perbuatan orang lain atau karena sesuatu yang tidak kita sengaja justru membuat kita dipersalahkan dan disalah mengerti.
* Terkadang segala sesuatu tak tampak seperti kelihatannya. Apa yang tampak indah dan baik di depan mata, terkadang busuk dan pahit. Apa yang tampak buruk dan tidak baik, terkadang di dalamnya ada keindahan hati.
* Kita perlu bijak dalam melakukan sesuatu atau menerima perlakuan dari orang lain. Kita perlu bijak dalam melihat segala sesuatu, bukan apa yang tampak di depan mata, tapi apa yang di hati. Orang yang memiliki hati emas, akan memancarkan kemilau yang tak akan luntur. Tetaplah semangat untuk memancarkan kilau putihnya hati, apa pun yang menimpa kita.
sumber: Maju Tiga Langkah Mundur Dua Langkah - Charles R. Swindoll
Leave a Reply