Sang Pilihan
Kisah itu kisah kesukaanku sepanjang masa. “Kami mengasuh anak-anak selama bertahun-tahun, tapi setelah beberapa lama, mereka harus kembali kepada orangtua mereka. Sekarang kami menginginkan bayi kami sendiri, yang dapat kami rawat selamanya.”
Aku biasanya duduk di pangkuan ibuku saat ia memulai kisah itu, tapi seraya aku bertambah besar, aku suka duduk di hadapannya supaya aku dapat melihat wajahnya. Aku telah melihat anak-anak lain itu dalam album foto: hitam, cokelat, dan putih, tampak sedih, menatap lurus ke depan, bersandar pada seekor anjing. Pada halaman yang paling baru, sambil tertawa lurus memandang kamera, tampak seorang bayi yang gembira dan gemuk dan itu adalah aku.
Dia pun meneruskan , “Waktu itu bulan November 1947, dan dingin menusuk, malah waktu itu adalah api sudah ada di stasiun saat kami tiba, menyemburkan awan uap yang besar. Kami sudah bertahun-tahun tidak berpergian karena adanya perang, jadi setelah kami naik, tak terganggu oleh dingin, semuanya tampak indah. Rasanya seperti seluruh negeri telah beku. Di mana-mana putih.”
Ibuku selalu berhenti di sini dan tersenyum, dan aku membayangkan dunia peri bersalju, pepohonan diliputi es, stalaktit menetes dari atap, keping salju menempel cerah di jendela kereta api.
“Akhirnya kami sampai, lalu naik bis ke sebuah rumah besar. Nyonya rumah telah menunggu kami, dan memberi kami secangkir teh untuk menghangatkan diri. Lalu ia mengajak kami berkeliling. Ada berpuluh-puluh bayi! Berkamar-kamar! Laki-laki dan perempuan, ada yang berambut cerah, ada yang berambut gelap. Ada bayi bermata biru, ada yang bermata cokelat, seperti kamu. Kami melihat-lihat lama sekali. Ada begitu banyak, dan banyak yang cantik. Ayah dan Ibu tak tahu bagaimana memilihnya.”
Kalau aku duduk di pangkuannya, ia akan meremasku, lalu memandangku sambil mencium kepalaku. Kalau aku duduk di hadapannya, ia memandang ke kejauhan, matanya berbinar oleh kenangan itu. Aku tak sabar menunggu bagian selanjutnya, dan menggeliat seperti cacing.
“Tiba-tiba,” ia melanjutkan, “Kami tiba di sebuah kamar baru dan di situ, di buaian kedua, kami melihatmu. Kamu menyedot hidung sambil memandang kami, seakan kamu telah menunggu kami seumur hidupmu, dan kami langsung tahu bahwa kamulah yang kami inginkan, bahwa kami telah menunggumu juga. Kami pikir, kamulah yang paling cantik di rumah itu, dengan kulit
cokelatmu yang manis dan rambut hitammu yang tebal. Kata mereka, namamu adalah Susan dan kamu berusia empat bulan.
“Apakah yang ini?” tanya si nyonya rumah, dan kami berkata, “Ya, pasti yang ini”. Kami membungkusmu dan kembali ke stasiun. Di kereta api, orang-orang terus menghampiri kami. “Wah, cantik sekali bayinya. Ini bayi kalian?” mereka bertanya dan kami pun menjawab, “Ya, kami baru saja memilihnya.”
“Wah,” kata mereka, “kamu memilih yang terbaik kalau melihat wajahnya,” dan kami pun berkata,”Jelas,”
Aku pun meringkuk turun, mendesakkan jari kakiku, merasa sangat istimewa. Kadang aku bahkan merasa kasihan pada anak yang dilahirkan biasa. Bertahun-tahun, kapan pun kami naik kereta api, aku menyangka pasangan yang kami lihat berbisik-bisik di kabin akan pergi untuk mengambil bayi mereka sendiri.
Kami memilih kamu pastilah perkataan yang termanis dalam bahasa apa pun.
Sue West
Sumber: Chicken Soup for the Mother’s Soul, hal 69-70
Leave a Reply