Semua Butuh Perjuangan Setara
Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, saya termasuk yang mendapatkan perhatian ekstra dari mama. Mungkin karena semenjak kanak-kanak, di usia sembilan belas bulan, papa telah meninggal dunia. Sejak saya mulai memasuki dunia pendidikan, mama yang saya kenal adalah mama yang “keras”, mama setiap hari sibuk bekerja dari pagi hingga tengah malam, dan keesokannya dan seterusnya demi kehidupan sekeluarga. Pendidikan yang diterapkan kepada kami, anak-anaknya adalah pendidikan ‘keras’! Semua kesalahan harus dijatuhi hukuman setimpal. Walaupun penampilan luar mama menunjukkan sifatnya yang keras, namun sesungguhnya di dalam hatinya menyimpan banyak cinta.
Seiring waktu berlalu, kami semakin dewasa dan bisa mengerti keadaan emosi mama yang labil akibat didera sakit yang tidak pernah sembuh total dan apalagi di usianya yang masih sangat muda, harus menanggung beban keluarga sendirian. Namun lama kelamaan, mama sudah jauh berubah, jauh lebih sabar. Membutuhkan keberanian yang sangat dan pemikiran yang berulang-ulang apabila mempunyai keinginan untuk menentang keputusan mama. Dan itu saya alami, saya lakukan! Entah kapan dan bagaimana mulanya, hubungan saya dengan Andrie dialiri sengatan listrik asmara, intens bertemu sapa dan nyaman berbagi cerita.
Mama mulai mencium gelagat saya menyukai Andrie karena seringnya cerita-cerita mengalir saat saya libur pulang kampung. Ada nada memperingatkan dari mama yang menginginkan saya serius kuliah bukan pacaran, tetapi hal itu tentu saja tidak saya hiraukan. Setelah hitungan waktu yang terus berjalan, hubungan kami memang berkembang semakin dekat. Secara beberapa kali peringatan lisan dari mama saya abaikan, akhirnya mama mengancam keras dengan menulis sepucuk surat bertuliskan tinta merah yang intinya berbunyi: Putuskan hubungan dengan Andrie, atau putus hubungan dengan mama, pilih salah satu! Sungguh pukulan yang amat berat bagi saya, apa yang harus saya perbuat? Sejak itu saya bingung akhirnya frustasi, konsentrasi belajar buyar dan saat ujian tiba hasilnya sungguh-sungguh mengenaskan, tujuh mata kuliah harus mengulang.
Andrie membangkitkan semangat belajar saya, katanya: Apa pun yang terjadi dengan hubungan kita nanti, Kamu tidak boleh gagal dalam kuliah. Kamu harus berhasil! Tujuan kamu ke Jakarta untuk mendapatkan gelar sarjana, kamu harus kasihan sama mama kamu yang telah membiayai kuliahmu dengan susah payah.
Dan konsekuensinya, setiap menjelang ujian Andrie membantu menyiapkan secangkir kopi dan menemani saya belajar. Urusan belajar dan ujian seolah-olah menghentikan sejenak masalah hubungan kami. Dan akhirnya sarjana muda hukum pun dapat saya capai dengan baik dan selesai tepat waktu.
Andrie sepenuhnya memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih. Dia berkata: “Kamu jangan sedih dan kacau begitu. Bila mau jujur, akulah yang seharusnya sedih, terhina, dan sakit hati. Tetapi aku bisa mengerti sikap dan keputusan penolakan mamamu terhadapku.” Memang kondisiku saat ini di posisi yang lemah, tidak berdaya dan tidak ada kemampuan untuk membela diri. Memang aku belum bisa menjadi ‘orang’ yang pantas dipandang oleh orang lain terutama di mata mama dan keluargamu. Sebenarnya di dalam hati kecilku pun aku ingin berontak, mengeluh, marah, berteriak, kenapa nasibku seperti ini? Dengan keadaanku seperti sekarang ini, aku tidak menyalahkan orang lain yang menghina dan merendahkanku. Mungkin waktu dan keadaanlah yang bisa kita salahkan. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa ke kamu dan tentunya kamu bebas menentukan pilihanmu, aku 100% bisa mengerti dan akan berusaha menerima apa pun yang akan menjadi keputusanmu. Prinsipnya hanya satu: Kamu mau sama aku atau tidak? Kalau mau sama aku, sampai ke mana pun aku akan berjuang demi kamu! Akan aku buktikan, bahwa aku bukanlah orang seperti yang mama pikirkan. Aku punya semangat dan kemampuan! Aku bisa sukses! Aku pasti bisa sukses! Bila kamu mau, aku mengharapkan kamu mau mendampingiku dan membantuku mewujudkan itu semua.
Walaupun di sisi saya, di dalam hati, ada galau dan keraguan yang sangat. Masa depan seperti apa yang ingin dibuktikan kepada dirinya sendiri, kepada saya, dan kepada mama? Bila keputusan mama tidak mau menerima Andrie dan “membuang” saya dari keluarga benar-benar terjadi, sedang di sisi lain, seandainya pula Andrie bukan orang yang bertanggung jawab seperti apa yang telah diucapkannya dan sesuai dengan harapan saya? Bila risiko terburuk yang harus saya hadapi di kemudian hari, mungkin saat itu, penyesalan sebesar apa pun tidak akan ada artinya. Di sisi lain, saya bisa mengerti sikap dan tuntutan mama kepada saya. Sebagai seorang mama, memikirkan kebahagiaan bagi anaknya adalah sesuatu hal yang luhur dan semestinya. Apalagi dengan predikat sebagai “aktor” yang terlanjur berkonotasi negatif dan ditambah lago yang tidak kalah pentingnya, status Andrie bukan anak ’sekolahan’, berpendidikan terlalu rendah (SDTT). Celakanya lagi, saat ini dia berstatus pengangguran dengan pekerjaan sebagai pengajar di perguruan kungfu, bukan pekerjaan yang bisa dibanggakan. Asal usul keluarganya juga tidak ada yang istimewa dan yang senyatanya adalah dari keluarga yang kurang mampu. Coba pikir lebih jelas dan jujur pada hatimu sendiri, apa yang bisa diharapkan dari seorang Andrie, sungguh-sungguh bukan calon menantu yang memenuhi kriteria setiap calon mertua, kata mama dengan nada tinggi.
Ada perasaan campur aduk antara menerima kenyataan yang pahit dan menyakitkan itu dengan keinginan hati membuktikan kepada setiap orang bahwa Andrie bukan seperti yang mereka pikirkan. Dia juga mempunyai banyak kelebihan, terutama semangat belajar, sosok orang yang pandai, punya kemauan yang keras, kejujuran, tekad yang membaja, tetapi memang semua kelebihan itu tidak ada artinya, bila tidak disertai bukti nyata. Waktu yang akan membuktikan dan menjadi saksi perjuangan dan keberhasilan kami.
Mungkin sekali seumur hidup ini saya mempunyai keberanian cenderung nekad walaupun secara diam-diam, tidak terang-terangan, tetapi ulet bertahan pada pendirian saya, yaitu menentang keputusan mama!
Setelah melewati kurun waktu tertentu, menjalani perjuangan panjang, kerja keras, kegigihan, keuletan, kenekadan, berusaha menunjukkan kesungguhan kami, membangun fondasi ekonomi yang lebih baik. Perlahan-lahan, terjadi perubahan yang mendasar, usaha kami menampakkan kemajuan yang berarti. Melihat kesungguhan kami berdua yang berusaha tetap bertahan bersama dan perubahan positif usaha bersama yang kami tunjukkan, akhirnya mama luluh dan merestui hubungan kami dengan syarat Andrie harus berjanji untuk tidak akan bermain film lagi. Andrie pun mantap mengiyakan dan menyetujui persyaratan itu.
Sekali lagi Andrie membuktikan salah satu nazarnya: “Suatu hari, akan aku buktikan bahwa aku bukan seperti yang mereka pikirkan. Aku akan berhasil dan sukses! Aku pasti menjadi menantu kebanggaan mama!” Dan semua itu terbukti, bukan sekadar janji.
Setelah kami menikah sekian tahun kemudian, banyak pertanyaan yang ditujukan kepada saya: Apa yang menjadi alasan saya memilih Andrie sebagai pendamping hidup dengan berani menentang keputusan mama? Keyakinan apa yang melandasi pemikiran dan perasaan saya untuk mempertahankan Andrie?
Sebenarnya, yang akan saya buktikan kepada diri saya sendiri bukan hanya berjuang memenangkan kehidupan bersama dengan Andrie saja, tetapi sekaligus memenangkan hati mama dan tetap menjadi putri kesayangan dan kebanggaannya. Alasan saya berani memutuskan mengejar impian dan mengambil risiko adalah sosok kepribadian Andrie terakumulasi dengan baik tentang pola pikir, prinsip hidup, cara bergaul, semangat, kejujuran, cara memandang suatu masalah dan bagaimana usaha menyelesaikannya, disiplin, pekerja keras, selalu berpikir positif dan tanpa topeng di hadapan saya. Saya tidak menutup mata dengan kekurangannya, kekurangan yang jelas pada Adrie adalah pendidikan formal yang terlalu minim. Tetapi pembuktian bahwa pembelajaran tidak di dapat semata-mata dari bangku sekolah saja, tetapi setiap hari di kehidupan kita adalah proses belajar, dan di setiap orang siapa pun dia adalah guru bagi kita untuk menimba ilmu.
Lama setelah itu, setelah kami cukup berhasil, Andrie membuat sebuah lembaga pendidikan: “Action and Wisdom Motivation Training” dengan motto:
Success is My Right
Sukses adalah Hak Saya
Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu,
Sukses milik Anda, milik saya,
Dan milik siapa saja
Yang benar-benar menyadari, menginginkan, dan memperjuangkannya
Dengan sepenuh hati!
Lembaga pendidikannya disebutkan kata “Action” diletakkan di depan kata “Wisdom” karena semua impian kita, khayalan, cita-cita, keinginan, semuanya itu dapat diwujudkan dengan action terlebih dahulu! Bertindak! Tanpa tindakan nyata semuanya hanya omong kosong, sekadar mimpi, dan cerita belaka. Maka mulailah dengan bertindak, bukan nanti atau sebentar lagi, tetapi sekarang, saat ini juga!
Di dalam perjalanan perjuangan meraih impian, melalui tindakan yang dilakukan, bisa benar bisa juga salah, dari kesalahan, halangan, kesulitan itulah maka akan tumbuh wisdom (kebijaksanaan). Untuk memperbaiki, bangkit, dan berjuang lagi hingga impian kita bisa terwujud di dalam kenyataan.
“ACTION IS POWER”
Dan
“MAKE IT HAPPEN!
Sumber: Andrie Wongso, Sang Pembelajar

Leave a Reply