Sepuluh Cara untuk Mengajar di Kelas Bhineka
1. Berikanlah kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan kemampuan mereka. Artinya, mungkin guru perlu menyediakan tambahan waktu bagi beberapa siswa, atau kegiatan tambahan bagi siswa lain.
2. Biarkan siswa memilih cara menyelesaikan tugas mereka, apakah akan dikerjakan sendiri atau bersama teman, serta di mana akan mengerjakannya.
3. Terapkan sistem asistensi, yaitu menugaskan siswa yang mampu (pandai) untuk membimbing siswa yang kurang mampu dan memberi contoh cara menyelesaikan tugas dan kegiatan. (Jangan lupa untuk mengganti-ganti pasangan)
4. Gunakan peragaan. Jelaskan kepada para siswa bahwa Anda akan memeragakan tugas yang diberikan, misalnya membuat peta pikiran, dan siswa boleh mengerjakannya bila sudah paham. Siswa yang belum paham atau mengalami kesulitan tentu akan menunggu sampai peragaan selesai, sedangkan mereka yang sudah paham akan langsung mulai bekerja. Setelah Anda selesai melakukan peragaan dan penjelasan, jadikan hasil peragaan sebagai contoh.
5. Gunakan sistem perancah. Mirip dengan sistem peragaan, sistem ini memberi kesempatan kepada siswa untuk “terbang solo” bila memang sudah siap atau tetap menunggu bantuan guru. Bedanya dengan sistem peragaan adalah bahwa dalam sistem perancah ini guru tidak menyelesaikan seluruh proses yang harus dilakukan. Guru harus segera berhenti memandu begitu siswa sudah paham dan hanya sesekali membantu siswa secara pribadi bila ada yang memerlukan. Sebagai contoh, untuk mengajari siswa menulis huruf “B” pada buku bergaris, guru mengatakan, Letakkan pensil kalian pada garis bagian atas (demonstrasikan), lalu tariklah garis lurus bagian atas (demonstrasikan). Letakkan kembali pensil pada tempat kalian memulai membuat garis tadi, lalu buatlah garis setengah lingkaran searah dengan arah jarum jam sampai di bagian tengah garis (tidak didemonstrasikan). Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?
6. Ajaklah mereka untuk belajar bekerja sama, yang memungkinkan siswa belajar dari sesama teman mereka.
7. Bedakan target dari siswa-siswa Anda. Misalnya siswa yang lebih lambat mungkin boleh hanya mengerjakan sepertiga soal, atau cukup menulis satu alinea saja untuk tugas yang berbentuk esai.
8. Gunakan teknik pancingan untuk menantang usaha anak. Misalnya, ubahlah pertanyaan Anda menjadi pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak” sebagai pertanyaan terbuka, khususnya untuk siswa yang kurang mampu.
9. Diskusikan dan peragakan beragam cara untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas sebagai cara mengatasi beragamnya perbedaan latar belakang siswa.
10. Setelah Anda memberikan petunjuk, sederhanakan petunjuk itu sekali lagi agar membantu siswa memahaminya.
Sumber: 55 Tesching Dilemas oleh Kathy Petrson.
Leave a Reply