Surat buat Bung Hatta
Waktu Bung Hatta melamar Yuke, saya merasa bahwa dia terlalu tua untuk kakakku yang satu-satunya ini. Tapi Yuke tidak mempunyai pendapat yang sama. Dia tertarik pada kesungguhan dan kepandaian Bung Hatta. Selain itu ia sangat kagum padanya. Sebenarnya Bung Hatta walaupun serius, orangnya ramah.
Menjelang 17 Agustus 1945, saya kebetulan berlibur ke Jakarta. Tentunya saya dititipi surat Yuke untuk Bung Hatta. Saya menjumpainya di rumah di Jalan Diponergoro dan ia mengatakan supaya kembali dalam beberapa hari untuk mengambil surat balasan.
Pada waktu itu saya menginap di rumah Paman. Pada tanggal 17 Agustus, pagi-pagi benar Paman berkemas-kemas untuk pergi ke Pegangsaan Timur (Jalan Proklamasi). Ia anggota Barisan Benteng. Waktu itu bulan puasa. Ketika Paman pulang pada tengah hari, dengan sangat gembira ia mengumumkan, “Kita sudah Merdeka! Kita harus merayakannya dengan berbuka puasa.” Tentunya saya sangat setuju. Pada umur 16 tahun, kalau diajak makan mau saja. Dengan semangat meluap dan terharu, Paman menceritakan detik-detik bersejarah ketika Negara Indonesia diproklamasikan.
Sore hari saya langsung menemui Bung Hatta sambil mengucapkan selamat dan ia menasihatkan supaya pulang ke Bandung selekas mungkin. Sebenarnya dampak dari arti merdeka belum dapat saya tangkap sepenuhnya. Baru waktu kembali ke Bandung dan keadaan menjadi gawat serta tentara Inggris masuk, saya mulai memahaminya.
“Raharty Subijakto, Pribadi Manusia Hatta, Seri 1, Yayasan Hatta, Juli 2002″
Leave a Reply