Surat-surat yang Memberi Semangat
Pada dasarnya, Bung Hatta memiliki rasa cinta yang sangat mendalam kepada keluarga. Kehidupan berkeluarga merupakan inti yang penting bagi dirinya. Tetapi rasa cinta itu tidaklah berarti bahwa Bung Hatta memanjakan keluarga secara berlebihan. Mencintai keluarganya bagi Bung Hatta berarti mendidik keluarganya. Beliau mengidam-idamkan suatu keluarga yang kuat dan teguh berprinsip, tidak goyah oleh keadaan yang sulit.
Salah satu contoh yang menggambarkan keteguhan keyakinannya tercermin dari suratnya yang dikirimkannya kepada saya pada tanggal 11 Januari 1949, ketika Bung Hatta berada dalam pengasingannya di Bangka. Surat itu ditulisnya dengan pensil dengan sangat rapi. Tak terlihat kegentarannya, tetapi beliau sangat yakin bahwa jalan sejarah akan terbuka menuju cita-cita bangsa Indonesia, bahwa bangsa Indonesia akan memperoleh kedaulatan negaranya. Surat itu antara lain berbunyi sebagai berikut:
… Kak Hatta merasa lega menerima surat Yoeke dan dari semulanya juga sudah yakin Yoeke akan sabar dan tahan uji. Tawakal kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, itulah kekuatan kita. Mudah-mudahan Meutia telah tenang kembali. Keadaan lingkungan besar pengaruhnya kepada anak kecil, sebab itu usahakanlah supaya di sekitarnya tetap ada cahaya gembira, yang juga akan menyinari jiwanya…
Bung Hatta menekankan kepada kami untuk sabar dan tahan uji, memberikan cahaya gembira untuk putrinya, Meutia, yang di saat itu baru berusia 21 bulan. Pesan Bung Hatta ini, walaupun ditujukan kepada saya, mestinya berguna pula bagi keluarga-keluarga lainnya. Artinya, bahwa keluarga selalu membutuhkan suasana yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga. Suasana yang menyenangkan itu secara minimal harus diciptakan oleh keseimbangan jiwa kita.
Surat itu berlanjut dengan pesan beliau kepada saya, agar saya mengumpulkan bundel karangannya. Tulisnya lebih lanjut,
“… Waktu itu terpikir oleh Ka’ Hatta, waktu dalam tahanan ini ada baiknya dipergunakan selain dari studi, merevisi buku-buku karangan Ka’ Hatta untuk menyiapkan percetakan baru. Terpikir pula oleh Ka’ Hatta, banyak manuskrip yang terbengkalai yang dapat disiapkan untuk buku-buku baru guna bekal Meutia di kemudian hari.”
Penutup surat itu berbunyi,
“Tetap sabar dan gembira, karena jalan sejarah menuju kepada cita-cita kita semuanya”
Secarik kertas yang pernah saya kirimkan kepada Bung Hatta tanggal 7 Oktober 1947 dari Yogyakarta, juga bermaksud mendukung perjuangan beliau. Pada kertas itu saya jiplakkan tangan kiri Meutia, dan tertulis “tangan Meutia sebelah kiri! MERDEKA AYAH!” Juga telapak kaki Meutia sebelah kiri, dengan komentar:
“sebegini besar sudah kaki dan tangan Meutia, soeroeh Meutia indjak kertas ini, lantas Yoeke tarik omtreknya!”
Pada sudut kertas terdapat bekas robekan oleh anak pertama saya yang ketika itu menghentakkan kakinya. Maka kutulis,
“Ini robek! Ditarik Meutia!”
Ny. Rahmi Hatta, Pribadi Manusia Hatta, Seri 2, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply