Teguran Pertama
Pak Wangsa Widjaja, sekretaris Bapak Hatta yang setia, mengatakan kepada saya bahwa saya tidak boleh terlambat dalam bertugas. Bapak Hatta sangat memperhatikan waktu dan tidak menyukai keterlambatan, biar semenit pun.
Baru beberapa hari bekerja, tibalah Hari Raya Idul Fitri. Sehari sebelumnya, Pak Wangsa telah mengatakan bahwa besoknya kami akan berangkat sembahyang di Masjid Matraman pada jam 6.00 pagi sehingga saya harus mempersiapkan mobil sebelum jam 6.00. Dengan patuh saya mengerjakan perintah Pak Wangsa, dan saya datang ke Jalan Diponegoro keesokan harinya pada jam 4.00 pagi, jadi 2 jam sebelum waktu yang ditetapkan, kemudian mempersiapkan mobil.
Tidak lama sesudah itu, tiba-tiba Bapak keluar dengan berpakaian rapi, siap untuk berangkat sembahyang ke Masjid Matraman. Saya terheran-heran dan merasa takut karena mendapat teguran, “Mengapa kau datang terlambat?” Saya tidak bisa menjawab apa-apa.
Untunglah pada waktu itu Ibu Rahmi Hatta mendengarnya dan langsung menjawab bahwa waktu baru menunjukkan pukul 4.15 pagi, jadi masih dua jam kurang sedikit sebelum waktu berangkat ke masjid. Ternyata jam tangan Bapak mengalami kerusakan sehingga terlalu cepat jalannya.
Setelah berjalan beberapa bulan saya melayani Bapak, sedikit demi sedikit saya mulai mengenal pribadi beliau serta keluarganya. Terhadap saya Bapak selalu baik, seperti halnya kepada para pegawai dan pembantu lainnya di rumah beliau. Satu hal yang paling menonjol pada diri Bapak adalah ketepatannya terhadap waktu dan ketidaksukaannya akan keterlambatan. Pengalaman pada hari-hari pertama di atas, serta pengalaman yang lain yang akan saya uraikan di bawah ini, menjadi contoh.
Abdul Madjid, Pribadi Manusia Hatta, Seri 4, Yayasan Hatta, Juli 2002
Leave a Reply