Teungku Cik Di Tiro, Pejuang Tak Kenal Kompromi
Syaikh Saman atau Muhammad Saman adalah nama Cik Di Tiro sebelum bergelar Teungku.
Muhammad Saman, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Teungku Cik Di Tiro adalah putra dari teungku Syaikh Abdussalam muda Tiro. Beliau lahir pada 1836 (1251 H) di Dajah Jrueng Kenegerian Tjombok Lamlo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Beliau dibesarkan dalam lingkungan agama yang kuat.
Sesuai dengan ajaran Islam yang diyakininya. Teungku Cik Di Tiro sanggup berkorban apa saja, baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya. Semuanya Beliau lakukan demi tegaknya agama dan negerinya. Keyakinannya ini dibuktikan dalam kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil.
Beliau memmbentuk angkatan Perang Sabil sejak 1873 saat meletusnya Perang aceh melawan Belanda. Dengan Perang Sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Pada Mei 1881, pasukan Cik Di Tiro dapat merebut Benteng Belanda Indrapuri, Lembaro, Aneuk Galong, dan lain-lain.
Belanda yang merasa kewalahan, akhirnya memakai “siasat licik”. Mereka membujuk seorang pengkhianat dengan diiming-imingi pangkat dan uang. Pengkhianat ini ternyata menyanggupinya. Lalu, dia mencari seorang perempuan. Perempuan iti disuruhnya mengantarkan makanan yang sudah dibubuhi racun kepada Teungku Cik Di Tiro.
Tanpa curiga sedikit pun, Teungku Cik Di Tiro memakannya dan akhirnya jatuh sakit. Tak lama kemudian, Beliau wafat pada Januari 1891 di Benteng Aneuk Galong.
Sumber: Salman Iskandar, 99 Tokoh Muslim Indonesia, PT Mizan Pustaka, 2009
Leave a Reply