Tunggul Ametung
Masa kecil Arya Pulung, yang digelari Tunggul Ametung, penuh penderitaan dan kesengsaraan. Ia telah yatim sejak kecil. Ia tak terlalu mengenal ayah kandungnya. Yang dikenal dalam hidupnya ialah kesusahan, penderitaan, dan kekerasan. Ia hanya mengerti, untuk meraih sesuatu yang diinginkan harus melalui perjuangan, kekuatan, dan kekerasan. Ia membenci kecengengan dan sifat sifat yang tidak mencerminkan sifat lelaki sejati.
Tubuhnya yang kuat berotot lebih banyak untuk bertarung dan berkelahi. Ia pintar menggunakan pukulan tangan dan tendangan kaki hingga amat jarang ia dikalahkan. Terlebih setelah diambil Mpu Palot sebagai murid dan mendapat pelajaran ilmu kanuragan di Padepokan Turyapada. Sekalipun tidak terlalu cerdas, dia mempunyai daya tahan tubuh yang mengagumkan yang menjadi murid kesayangan Mpu Palot dan menjadi cantrik yang ditakuti di seluruh Padepokan Turyapada. Sesungguhnya Mpu Palot menaruh harapan padanya sehingga dia menurunkan ilmu tunggal daya pada Arya Pulung. Sayang, kesombongan, dan kekejaman Arya Pulung amat tinggi mengemuka hingga Mpu Palot tak terlalu suka berharap padanya. Arya Pulung semakin semena- mena dalam kekasaran dan kekerasan setelah menerima ilmu kanuragan di Padepokan Turyatapada. Ia makin gemar bertarung dan berkelahi. Hebatnya pula, tanpa pernah sekalipun kalah.
Arya Pulung lantas mengabdi pada Sri Maharaja Kretajaya dengan menjadi prajurit Kediri. Tak lama bergabung ia telah dikenal dengan prajurit istimewa, prajurit unggulan, ia tangguh, sakti dan tak pernah kalah dalam berbagai peperangan yang diikutinya. Para Kadiri jatuh hati melihat kemampuan hebatnya itu. Tak urung Sri Maharaja Kretajaya pun kesengsem dengan kemampuan dan kadidakjayaan. Tak menunggu lama Sri Maharaja Kretajaya telah mengangkat Arya Pulung sebagai begawan kerajaan Kadiri. Ketika marak terjadi berbagai macam kejahatan dan usaha merobohkan kekuasaannya, Sri Maharaja Kretajaya selalu menitakan Arya Pulung untuk membereskannya. Dan Arya Pulung tidak pernah mengecewakannya sekalipun juga. Sri Maharaja Kretajaya yang merasa puas dengan Arya Pulung laksana tangan kanannya. Terlebih Arya Pulung membalasnya dengan kesetiaannya yang utuh, tiada cela.
Hanya satu cacat yang dilihat Sri Maharaja Kretajaya pada perwira unggulannya, yaitu lirikan maut pada Prameswarinya. Sri Maharaja Kretajaya tak ingin lirikan mata itu akan berbuah perselingkuhan yang menikamnya kemudian hari. Maka ketika Tumapel bergolak, ia mempunyai cara untuk menyingkirkannya, Arya Pulung diangkat dari Kadiri menjadi Akuwu Tumapel dan digelari Tunggul Ametung.
Arya Pulung terpaksa menerima penunjukan itu meski dia tidak suka. Ia tahu ia makin disingkirkan dari Kadiri dan dijauhkan dari wanita impiannya. Dendam di hatinya pada Sri Maharaja Kretajaya ia terpaksa mengalah. Namun, ia menunggu waktu yang tepat untuk menuntaskan rasa dendamnya itu. Ia tegas akan menggulingkan Kretajaya, Si Dhandhang Gendhis itu ia menunjukkan kekuatan Tumapel, sekuat-kuatnya sebelum bertolak ke barat untuk merobohkan singgasana Kretajaya.
Jabatan Akuwu sungguh bukan jabatan yang tinggi. Ia hanya setingkat buyut atau Ketua Desa, jabatan terendah dalam pemerintahan. Tapi jabatan Akuwu di Tumapel jauh berbeda dengan Akuwu di Kadiri. Tumapel bekas pemerintahan Janggala. Menguasai Tumapel, sekalipun wilayah itu adalah wilayah Pakuwuan dalam pemerintah Kadiri, laksana menguasai Kerajaan Janggala. Itulah yang dinamai Tunggul Ametung, si gada penghancur nan tangguh.
Di Tumapel Tunggul Ametung hidup bagai laksana Raja Muda. Namun Wardana yang setingkat dengannya ngeri terhadapnya. Bahkan juru yang dua tingkat lebih tinggi dari jabatannya dibandingkan dengan akuwu merasa takut kepadanya. Mereka sadar Tunggul Ametung bukan Akuwu biasa. Ia Akuwu istimewa yang mendapat keistimewaan Kadiri. Ia punggawa unggulan Kadiri dan menjadi tangan Sri Maharaja Kretajaya dalam menumpas pemberontakan yang terjadi di wilayah kekuasaan Kadiri. Ia juga dikenal sakti. Tubuhnya bagaikan terbuat dari baja, tidak mempan senjata. Ilmu pemangku jagat dan tunggal sifat Tunggul Ametung amat kejam, jauh dari welas asih. Menurutnya welas asih hanyalah sifat wanita yang tak pantas untuk disandang. Lelaki sejati hanya mengakui kemenangan dan kejayaan yang didapat dengan jalan kekuasaan dan kekerasan.
Tidak ada yang ditakuti Tunggul Ametung kecuali kepada Sri Maharaja Kretajaya, itu pun hanya lahiriahnya saja secara batin ia ia menentang, bahkan sangat membenci Sri Maharaja Kretajaya. Ia berniat menggulingkan kekuasaan Dhandhang Gendhis itu.
Sejak ia diangkat menjadi akuwu, Tunggul Ametung merasa bahwa dirinya telah disingkirkan dari Kadiri. Ia tetap yakin, penyingkirannya itu karena rasa cemburu dan kekhawatiran Si Dhandhang Gendhis, begitu dia menyebutkan Sri Maharaja Kretajaya dengan jengkel di dalam hatinya. Untuk sementara waktu Tunggul Ametung menyimpan kegeraman dan kemarahan di dalam hatinya. Menyimpan dendam dalam hatinya seolah-olah telah memenuhi seluruh isi hatinya. Ia tidak hanya berharap Si Dhandhang Gendhis segera mati, tetapi ingin sekali ia sendiri yang menghabisi nyawa Si Dhandhang Gendhis itu.
Tunggul Ametung mulai membangun dan memperkuat Pakuwon laksana Istana Kerajaan. Tak kalah indah dengan Kerajaan Kadiri, Pakuwon Tumapel juga dilengkapi dengan benteng, taman larangan, dan pernak-pernik lain layaknya pengisi sebuah kerajaan. Untuk memperkuat, Tunggul Ametung merekrut pemuda-pemuda Tumapel menjadi prajurit dan mempersiapkan banyak senjata. Dia memerintah para empu untuk bekerja keras membuat aneka macam senjata. Pemuda-pemuda Tumapel dijanjikan dengan bayaran besar bagi yang mau menjadi prajurit. Bayaran besar dan kehormatan yang tinggi selaku prajurit membuat mereka meninggalkan sawah, ladang, dan lahan garapan. Bagi Tunggul Ametumg semakin banyak pemuda yang menjadi prajurit, semakin mendekati kesempurnaan persiapan untuk merebut Kadiri.
Para Prajurit dilatih dasar-dasar keprajuritan secara teratur. Jenjang kepangkatan disesuaikan seperti kelayakan kepangkatan Kerajaan Kadiri. Tunggul Ametung juga membentuk satu pasukan khusus.
Tunggul Ametung bertindak lebih jauh. Untuk menandingi Sri Maharaja Kretajaya ia meminta segenap prajurit dan juga rakyat Tumapel untuk memanggil yang Mulia Akuwu Tunggul Ametung laksana Bagai Raja Kadiri!
Judi, pelacuran, dan minuman keras adalah trisula yang saling erat berhubungan. Dua hal yang kemudian mengikuti adalah madat alias menggunakan candu dan maling atau mencuri. Jika lima hal itu tergabung maka kerusakan pada masyarakat yang menjadi buahnya. Makin lengkaplah sebuah keburukan! Itu pulah yang terjadi di Tumapel …
Tumapel menjadi daerah yang paling rusak di seluruh daerah Janggala. Segala bentuk kejahatan terdapat di sana. Perampokan, penjarahan, pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya tumbuh subur dan menjamur.
Akuwu Tunggul Ametung, para perwira tinggi, dan prajurit hidup berkecukupan, serba berlebihan. Namun tidak dengan rakyat kebanyakan, para petani menjerit mendapatkan remah kecil hasil usaha setelah hasil terbesar diserahkan ke pakuwon. Begitu peladang yang harus memeras keringat kuat-kuat hanya untuk mendapatkan sisa sedikit, begitu pula dengan para nelayan, buruh, dan pekerja lainnya. Semua hidup dalam kondisi memprihatinkan, terpuruk laksana cacing-cacing yang mengais-ngais tanah untuk mengais rezeki.
Di Tumapel yang kaya memang bisa bertambah kaya, meski banyak pula yang jatuh miskin setelah kekayaan ludes di meja judi. Atau habis untuk membayar kehangatan para pelacur wanita. Yang semula terhormat dan kaya, jatuh bangkrut dan banyak menjadi pelacur, setelah tidak menemukan jalan lain. Lelaki-lelaki yang semula terhormat segera bergabung dengan para perampok dan pencuri setelah tak lagi berharta. Mengetahui hal tersebut Tunggul Ametung tetap mematung.
Hati batunya tak tersentuh kondisi memilukan itu, baginya kekuatan laskar tempur Tumapel yang terus ditambah dan diasah. Ia terus menghitung kekuatan Kadiri yang hendak ditaklukkannya dan tidak terpengaruh kondisi rakyat Pakuwon yang dipimpinnya. Dia baru menumpas pemberontak dan kejahatan jika gerakannya mulai mengancam keutuhan Kadiri dan Tumapel. Terlebih, jika berani merongrong kewibawaan selaku Akuwu!
Dengan tangan besi, Tunggul Ametung menghukum siapa pun yang dianggap berani berbuat onar di Tumapel.
TUNGGUL AMETUNG akuwu TUMAPEL ayah dari ANUSOPATI,adakah asal-usul TUNGGUL AMETUNG berasal dari kerajaan TARUMANEGARA.