Waspadai Indera Pengecap dapat Memicu Obesitas Anak
Makanan cepat saji memang sangat digemari anak-anak karena rasanya yang gurih. Menutup restoran cepat saji atau menertibkan tukang jajan di sekolah dasar tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan usaha dari pelbagai kalangan untuk melakukan perubahan yang benar-benar efektif, dari pemerintah, media massa, rakyat secara umum, sekolah, penyedia jasa kesehatan, peneliti, dan tentunya dari kalangan rumah alias orang tua.
Kebiasaan-kebiasaan yang baik harus ditanamkan pada anak sejak dini. Para orang tua harus disiplin dan ‘tega’ mendidik anak untuk pergi sekolah jalan kaki atau naik sepeda daripada harus diantar jemput. Tidak baik untuk menuruti anak untuk sering makan di restoran cepat saji, budaya makan buah dan sayur harus sejak dini dibiasakan, dongeng-dongeng sebelum tidur ada baiknya kembali dibudayakan dengan cerita Popeye dan bayam atau cerita bagaimana proses sebuah telur bisa menjadi ayam goreng superbesar dengan lemak tebal dan kulit renyah khas restoran cepat saji.
Tak kalah pentingnya ialah peran sekolah untuk menambah jadwal olah raga dan menyediakan media yang lebih baik bagi anak-anak untuk ‘bermain’ dan berolahraga. Sekolah juga sebenarnya menjadi kunci untuk menertibkan puluhan pedagang yang menyuguhkan makanan-makanan sangat tidak sehat. Memang benar bahwa ‘jajan’ lebih tepat digolongkan sebagai kebiasaan, meski sudah dihalang-halangi bagaimana pun, anak-anak akan tetap mencari tukang jajan di mana-mana. Dengan demikian kampanye menghindari jajan harus sangat rutin digembar-gemborkan. Para ilmuwan sebenarnya juga menyarankan pada pihak sekolah untuk memberi waktu luang 30 menit perhari untuk melakukan aktivitas kardiovaskular.
Salah satu yang perlu kita waspadai adalah indera pengecap anak. Anak-anak yang mengalami gangguan rasa pada lidahnya berpotensi alami obesitas. Studi baru-baru ini menemukan bahwa satu dari 10 orang anak mengalami kesulitan merasakan makanan atau minuman mereka. Temuan ini pun diperkirakan lazim terjadi pada anak-anak lain yang sebaya.
Eksperimen dilakukan dengan mengubah konsentrasi yang berbeda dari kelima minuman rasa sehingga total mencapai 40 minuman yang diberikan secara acak. Saat jeda di antara setiap minuman, anak-anak tersebut diminta untuk membersihkan mulut mereka dengan air. Seorang anak dikatakan mengalami gangguan rasa apabila ia tidak dapat menunjuk dengan benar foto yang sesuai dengan setidaknya tiga dari lima konsentrasi yang berbeda dari suatu rasa.
Ternyata, 41 anak atau sebanyak 9,5% memenuhui kriteria gangguan rasa yang telah disebutkan sebelumnya. Bahkan, dua pertiga di antaranya tidak dapat mengenali rasa manis. Laing menduga penyebabnya adalah infeksi kronis pada telinga bagian dalam.
Hilangnya kemampuan untuk mengecap rasa dapat merubah secara dramatis selera terhadap makanan yang dapat menyebabkan perubahan pola makan. Misalnya, anak-anak yang tidak dapat mengecap rasa manis akan beralih ke makanan yang mengandung garam lebih banyak.
Sumber: National Geographic dan Farmacia
Leave a Reply